MENGAPA TUHAN YESUS
MENGUTUK POHON ARA ???
. . . . Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.
(Markus 11:13)
Ada dua Injil yang menulis kisah tentang Tuhan Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah : Injil Matius 21 dan Injil Markus 11. Injil Matius tidak menjelaskan mengapa pohon ara itu tidak berbuah, akan tetapi dalam Injil Markus dijelaskan bahwa pohon ara itu tidak berbuah sebab memang bukan musim buah ara
Lalu mengapa Tuhan Yesus tetap menuntut pohon ara itu untuk berbuah pada saat bukan musim buah ara? Ternyata pohon ara yang sehat memiliki siklus berbuah yang terus menerus. Pada saat mulai musim panas maka daun-daunnya akan gugur, kemudian pada saat musim semi maka daun-daun akan mulai bermunculan disertai dengan bunga-bunga kecil yang juga bermunculan. Kemudian ketika daun-daun sudah tumbuh dengan lebat maka bunga-bunga kecil tadi tentunya sudah berubah menjadi buah yang memenuhi pohon ara.
Pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan Yesus tidak menunjukkan sebagai pohon ara yang sehat, ada kekacauan dalam siklusnya, tidak terjadi penahananan hasil pengolahan di daun, sehingga tidak terbentuk bunga dan buah. Dapat dikatakan pohon ara ini malas untuk mengolah kembali sehingga tidak dapat terbentuk bunga.
Bukankah pohon penghasil buah akan sia-sia bila tidak menghasilkan buah, dan pada akhirnya pohon ini akan ditebang untuk dijadikan kayu bakar?
Pohon ara menggambarkan kehidupan orang-orang percaya yang selalu harus mengeluarkan buah Roh dalam kehidupannya. Proses menghasilkan buah ini hanya dapat terjadi apabila seseorang memiliki siklus yang sehat, tidak hanya menonjolkan sosoknya yang seolah hebat dan rimbun. Orang percaya yang tidak menghasilkan buah Roh akan mempunyai nasib yang sama dengan pohon ara yang tidak berbuah di atas, untuk kemudian dikumpulkan dan dibakar.
Seorang percaya hanya dapat mengeluarkan buah rohani apabila ada hubungan yang intim dengan Allah. Keintiman ini dapat diperoleh dengan cara membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan membuat mezbah doa setiap hari. Belajar untuk merenungkan Firman Tuhan adalah proses mengolah makanan yang didapat sehingga akan merangsang tumbuhnya buah Roh. Mezbah doa akan membuat kita tetap melekat pada Allah, tetap melekat pada induk pohon.
Tidak ada yang salah dengan ayat-ayat dalam Inji Markus di atas. Kalaulah kita tidak mengerti satu bagian dari Firman Tuhan, yang diperlukan pertama adalah yakini bahwa Firman Tuhan tidak pernah salah, kalau dirasakan kita tidak mengerti maka yang salah ada pada diri kita karena keterbatasan pikiran kita. Yang kedua rindukan bahwa Tuhan memberikan hikmat agar pada waktunya Tuhan membukakan segala yang masih menjadi rahasia (paul herwanto)